Minggu, 25 Desember 2016

HPA INDONESIA

PENGENALAN PRODUCK

SABUN KOLAGEN (Collagen Body Soap)

SABUN KOLAGEN (Collagen Body Soap)

SABUN KOLAGEN digunakan untuk perawatan kesehatan dan sebagai bahan kosmetik. Membersihkan kulit tubuh sekaligus melembabkan. Kulit menjadi bersih, lembut dan lebih bercahaya setiap hari.

APA ITU KOLAGEN?
Mungkin Anda sering mendengar atau sudah tidak asing lagi dengan kata-kata kolagen. Kolagen merupakan salah satu protein yang terdapat dalam tubuh kita. Kolagen banyak ditemukan pada jaringan ikat seperti kulit, ligamen dan tendon. Bagian tubuh lain yang juga terdapat kolagen antara lain tulang, pembuluh darah, kornea mata dan usus.
Sekitar 25-30 persen dari semua protein di tubuh dibuat dari kolagen, yang ditemukan pada jaringan konektif seperti tulang rawan dan tendon. Mungkin karena kental, kolagen sering disebut lem yang menyatukan tubuh menjadi satu.

MANFAAT SABUN KOLAGEN
Kolagen ini merupakan produk alami yang sangat luar biasa membantu proses pertumbuhan badan.
Sabun Transparant Kolagen meremajakan kulit, menghaluskan kulit yang sudah kering dan kusam, menjadikan kulit lebih putih, mengurangi iritasi pada kulit yang sensitif.
Sabun Transparan Kolagen dapat digunakan untuk pembersih wajah, dapat membantu memudarkan flek hitam, meningkatkan daya elastisitas kulit, membantu proses pembentukan kulit, menjadikan kulit yang kenyal, kencang, indah dan halus, serta bisa mengobati penyakit pada kulit seperti panu, kurap, koreng dan penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri.
Gunakan Sabun Kolagen setiap mandi, untuk hasil yang lebih sempurna.

Minggu, 04 Desember 2016

ORANG BERIMAN

LATAR BELAKANG :
1. QS AL-'ASHR : Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi, kecuali : 1. Amanu (Beriman ), dst
2. QS AT-TIIN : Sesungguhnya Allah telah menciptaka manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Allah merendahkan derajat manusia menjadi paling rendah / hina, kecuali : Amanu (Beeriman).
3. Mungkin masih banyak ayat suci yang mana orang beriman sebagai pengecualian ...

Layakkah kita termasuk orang beriman?

Biasanya : Kita akan bangga kalau nama kita dipanggil duluan untuk menrima sesuatu. Contoh penerimaan piagam, passport, dll.... Begitu ada panggilan nama kita,...kita sambut panggilan tersebut dengan suk cita dan antusias...

Kita tentu bangga sebagai orang yang beriman

Banyak sekali panggilan Allah terhadap orang yang beriman, diantaranya :

1. QS Al-Baqoroh 153 : Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.. Kita menyembah dan minta pertolongan hanya kepada Allah ( QS Al-Fathehah )

2. QS Al-Baqoroh 183 : Hai orang-orang yang beriman, tlah diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang terdahulu. Dalam berpuasa, mari kita mencotoh orang-orang terdahulu, tidak sekedar membalik pola makan. Dan justru lebih boros, sehoingga empati kita kepada fakir miskin kurang.

3. QS. Al Baqoroh 208 ; Perintah untuk masuk Islam secara totalitas. Islam tkk sekedar yang ada dlm rukun Islam ( Syahadat, Sholat dst, walau kita belum sempurna dalam rukun islam, masih perlu banyak belajar sholat yang benar, memurnikan syahadat dll ). Islam meliputi politik, budaya, ekonomi dan seluruh aspek kehidupan manusia dan alam..

4. QS Al Maidah  51 : memilih pemimpin. Yang sekarang baru jadi perbincangan.

5 dst masih banyak lagi ayat-ayat panggilan khusus untuk orang beriman.

Kualitas dan kemurnian iman kita banyak ditentukan kepada seberapa cepat kita memenuhi panggilan Allah.
Kalau kita masih banyk alasan untuk menghindar dari panggilan-Nya. Berarti kita belum layak disebut sebagai orang ber-"IMAN"

Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.

Jumat, 02 Desember 2016

BERKONTRIBUSILAH DAN JANGAN MENGUNGKITNYA!

puzzle-pieces
Muslimahzone.com – Banyak manusia, termasuk kita, yang kerap merasa telah berjasa melakukan kebaikan ini-itu, lalu mengungkit-ungkitnya dalam suatu kesempatan. Yah, kita memang bukan malaikat, bukan Nabi atau rasul dan bukan orang yang memiliki kepribadian selevel para sahabat. Kita adalah manusia biasa yang kerap didominasi hawa nafsu. Rasa bangga. Ujub.
Padahal, Allah SWT melarang kita untuk mengungkit-ungkit kebaikan atau jasa-jasa yang pernah kita lakukan. Bahkan, jangankan kita yang manusia biasa, Allah SWT pun pernah mengingatkan para sahabat agar menjauhkan diri dari tindakan buruk tersebut.
Salah satunya, antara lain ditafsirkan dari firman Allah SWT surat At-Taubah ayat 40 yang artinya:
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (9: 40)
Ayat tersebut diturunkan 9 tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Rentang waktu yang cukup lama. Lantas, mengapa Allah SWT baru menurunkan ayat yang terkait dengan peristiwa hijrah tersebut setelah orang mungkin melupakannya? Hal itu semata-mata untuk mengingatkan para sahabat akan peristiwa bersejarah tersebut dan mengambil pelajaran penting darinya.
Para sahabat yang masih hidup diingatkan, bahwa keberhasilan hijrah Nabi bukan semata-mata atas pertolongan para sahabat, melainkan juga berkat pertolongan Allah SWT. Maka, tidak pantas para sahabat merasa jadi orang yang paling berjasa atas peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Saling membanggakan dan saling berbusung dada.
Namun demikian, peristiwa itu juga menunjukkan bahwa keberhasilan hijrah, tidak hanya bersandar pada pertolongan Allah SWT semata. Nyatanya, ada kaidah syababiyah (sebab-sebab yang menghantarkan pada tujuan, red) yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat agar hijrahnya selamat.
Jadi, kombinasi antara kaidah syababiyah plus pertolongan Allahlah yang mengantarkan pada kesuksesan. Nabi dan sahabat tidak hanya bersandar semata-mata pada pertolongan Allah SWT, tetapi telah benar-benar menyiapkan strategi jitu untuk menyelamatkan perjalanan Rasul.
Pertama, Nabi telah menyiapkan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikannya tidur di tempat tidurnya, hingga kafir Quraisy terkecoh dan tidak melihat saat Nabi keluar rumahnya menuju rumah Abu Bakar. Saat itu, memang pertolongan Allah SWT datang dengan mengaburkan pandangan para pengepung rumah Nabi, sehingga mereka sama sekali tidak melihat kepergian Sang baginda.
Kedua, peran Abu Bakar yang ditunjuk Nabi untuk menemaninya hijrah. Begitu diminta menemani Nabi beberapa hari sebelumnya, Abu Bakar langsung membuat perencanaan matang, bagaimana agar hijrah Nabi sukses.
Ia langsung menyewa Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan dan ahli pencari jalan pintas menuju Madinah. Menyiapkan diri untuk melewati jalur berat yang tak biasa dilalui manusia. Dia juga telah menyiapkan unta terbaik untuk tunggangan Nabi dan dirinya.
Dia menyuruh anaknya, Abdullah, agar menggembalakan kambing di dekat Gu Tsur agar ia dan rasul dapat meminum susunya. Juga, agar ia bisa mendapat kabar tentang pergerakan kaum kafir Quraisy. Lalu tak lupa menunjuk putrinya, Asma binti Abu Bakar untuk mengirimkan makanan dan keperluan lainnya selama persembunyian selama tiga hari lamanya.
Nah, begitu Nabi dan Abu Bakar berangkat dan sampai ke Gua Tsur, Abu Bakar masuk gua lebih dulu untuk memastikan tidak ada binatang berbahaya di gua, agar Nabi selamat. Dia merobek-robek bajunya dan menutup lubang-lubang berbahaya. Satu lubang yang tidak kebagian kain, ditutup dengan tubuhnya, hingga Nabi bisa tidur di pangkuannya dengan tenang.
Saat malam, tubuhnya digigit binatang dari lubang itu hingga menahan rasa sakit dan menangis tertahan. Tetesan air mata itulah yang akhirnya membangunkan Nabi. Singkat cerita, Nabi dan Abu Bakar selamat sampai Madinah.
Sungguh, Nabi dan Abu Bakar benar-benar membuat rencana matang agar hijrahnya berhasil. Menempuh sebab-sebab untuk tercapainya tujuan. Bukan semata menyandarkan pada pertolonangan Allah, meskipun Allah sendiri telah menjaminnya.
Maka, demikianlah pelajaran yang dapat kita petik. Dalam mencapai tujuan, kita tidak boleh bersandar pada pertolongan Allah semata, melainkan ada ikhtiar terbaik untuk meraihnya. Dalam aktivitas apapun. Apalagi, kita bukanlah selevel sahabat, apalagi Nabi.
Sedangkan para sahabat saja, sembilan tahun setelah peristiwa itu, masih diingatkan Allah SWT agar tetap berbuat baik, tanpa mengungkit-ungkit kebaikan itu. Apalagi kita, manusia biasa. Sudah semestinya berusaha lebih keras dan cerdas dalam mencapai tujuan. Sembari tetap bertawakal kepada pertolongan Allah SWT.
Terlebih hari ini, saat ketika agama Allah terus menerus dinistakan musuh-musuh Islam, kelestarian Islam tidak hanya tergantung pada pertolongan dan penjagaan Allah SWT semata. Umat Islam tidak boleh berlepas diri. Tetapi, harus ada kontribusi dengan menempuh jalan untuk melestarikan wahyu-Nya. Tapi ingat, jika kita toh memiliki kontribusi, maka tidak boleh berbangga diri dan mengungkit-ungkitnya sebagai orang yang paling berjasa. Wallahu’alam.
Asri Supatmiati
(fauziya/muslimahzone.com)