Muslimahzone.com – Banyak manusia,
termasuk kita, yang kerap merasa telah berjasa melakukan kebaikan
ini-itu, lalu mengungkit-ungkitnya dalam suatu kesempatan. Yah, kita
memang bukan malaikat, bukan Nabi atau rasul dan bukan orang yang
memiliki kepribadian selevel para sahabat. Kita adalah manusia biasa
yang kerap didominasi hawa nafsu. Rasa bangga. Ujub.
Padahal, Allah SWT melarang kita untuk mengungkit-ungkit kebaikan
atau jasa-jasa yang pernah kita lakukan. Bahkan, jangankan kita yang
manusia biasa, Allah SWT pun pernah mengingatkan para sahabat agar
menjauhkan diri dari tindakan buruk tersebut.
Salah satunya, antara lain ditafsirkan dari firman Allah SWT surat At-Taubah ayat 40 yang artinya:
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah
telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah)
mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang
ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka
Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan
tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang
kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (9: 40)
Ayat tersebut diturunkan 9 tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi
Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Rentang waktu yang cukup lama.
Lantas, mengapa Allah SWT baru menurunkan ayat yang terkait dengan
peristiwa hijrah tersebut setelah orang mungkin melupakannya? Hal itu
semata-mata untuk mengingatkan para sahabat akan peristiwa bersejarah
tersebut dan mengambil pelajaran penting darinya.
Para sahabat yang masih hidup diingatkan, bahwa keberhasilan hijrah
Nabi bukan semata-mata atas pertolongan para sahabat, melainkan juga
berkat pertolongan Allah SWT. Maka, tidak pantas para sahabat merasa
jadi orang yang paling berjasa atas peristiwa hijrah Rasulullah SAW.
Saling membanggakan dan saling berbusung dada.
Namun demikian, peristiwa itu juga menunjukkan bahwa keberhasilan
hijrah, tidak hanya bersandar pada pertolongan Allah SWT semata.
Nyatanya, ada kaidah syababiyah (sebab-sebab yang menghantarkan pada
tujuan, red) yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat agar hijrahnya
selamat.
Jadi, kombinasi antara kaidah syababiyah plus pertolongan Allahlah
yang mengantarkan pada kesuksesan. Nabi dan sahabat tidak hanya
bersandar semata-mata pada pertolongan Allah SWT, tetapi telah
benar-benar menyiapkan strategi jitu untuk menyelamatkan perjalanan
Rasul.
Pertama, Nabi telah menyiapkan Ali bin Abi Thalib untuk
menggantikannya tidur di tempat tidurnya, hingga kafir Quraisy terkecoh
dan tidak melihat saat Nabi keluar rumahnya menuju rumah Abu Bakar. Saat
itu, memang pertolongan Allah SWT datang dengan mengaburkan pandangan
para pengepung rumah Nabi, sehingga mereka sama sekali tidak melihat
kepergian Sang baginda.
Kedua, peran Abu Bakar yang ditunjuk Nabi untuk menemaninya hijrah.
Begitu diminta menemani Nabi beberapa hari sebelumnya, Abu Bakar
langsung membuat perencanaan matang, bagaimana agar hijrah Nabi sukses.
Ia langsung menyewa Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan dan
ahli pencari jalan pintas menuju Madinah. Menyiapkan diri untuk
melewati jalur berat yang tak biasa dilalui manusia. Dia juga telah
menyiapkan unta terbaik untuk tunggangan Nabi dan dirinya.
Dia menyuruh anaknya, Abdullah, agar menggembalakan kambing di dekat
Gu Tsur agar ia dan rasul dapat meminum susunya. Juga, agar ia bisa
mendapat kabar tentang pergerakan kaum kafir Quraisy. Lalu tak lupa
menunjuk putrinya, Asma binti Abu Bakar untuk mengirimkan makanan dan
keperluan lainnya selama persembunyian selama tiga hari lamanya.
Nah, begitu Nabi dan Abu Bakar berangkat dan sampai ke Gua Tsur, Abu
Bakar masuk gua lebih dulu untuk memastikan tidak ada binatang berbahaya
di gua, agar Nabi selamat. Dia merobek-robek bajunya dan menutup
lubang-lubang berbahaya. Satu lubang yang tidak kebagian kain, ditutup
dengan tubuhnya, hingga Nabi bisa tidur di pangkuannya dengan tenang.
Saat malam, tubuhnya digigit binatang dari lubang itu hingga menahan
rasa sakit dan menangis tertahan. Tetesan air mata itulah yang akhirnya
membangunkan Nabi. Singkat cerita, Nabi dan Abu Bakar selamat sampai
Madinah.
Sungguh, Nabi dan Abu Bakar benar-benar membuat rencana matang agar
hijrahnya berhasil. Menempuh sebab-sebab untuk tercapainya tujuan. Bukan
semata menyandarkan pada pertolonangan Allah, meskipun Allah sendiri
telah menjaminnya.
Maka, demikianlah pelajaran yang dapat kita petik. Dalam mencapai
tujuan, kita tidak boleh bersandar pada pertolongan Allah semata,
melainkan ada ikhtiar terbaik untuk meraihnya. Dalam aktivitas apapun.
Apalagi, kita bukanlah selevel sahabat, apalagi Nabi.
Sedangkan para sahabat saja, sembilan tahun setelah peristiwa itu,
masih diingatkan Allah SWT agar tetap berbuat baik, tanpa
mengungkit-ungkit kebaikan itu. Apalagi kita, manusia biasa. Sudah
semestinya berusaha lebih keras dan cerdas dalam mencapai tujuan.
Sembari tetap bertawakal kepada pertolongan Allah SWT.
Terlebih hari ini, saat ketika agama Allah terus menerus dinistakan
musuh-musuh Islam, kelestarian Islam tidak hanya tergantung pada
pertolongan dan penjagaan Allah SWT semata. Umat Islam tidak boleh
berlepas diri. Tetapi, harus ada kontribusi dengan menempuh jalan untuk
melestarikan wahyu-Nya. Tapi ingat, jika kita toh memiliki kontribusi,
maka tidak boleh berbangga diri dan mengungkit-ungkitnya sebagai orang
yang paling berjasa. Wallahu’alam.
Asri Supatmiati
(fauziya/muslimahzone.com)